Social Analitycs System

Post Influencer Kontra

Post Komentar Reaksi
Makassar Inggris terkenal sebagai negara dengan curah hujan yang tinggi. Lebih banyak masa dalam setahun yang basah daripada terlihatnya sinar matahari namun kota-kota di negara itu tidak terendam air apalagi air dari comberan. Contoh adalah kota Liverpool yang yah … lebih banyak hari mendung dan basah daripada hari kering. Apa hubungannya dengan Makassar dan banjir yang belum naik selutut di rumahku di kota Makassar? Singkat saja, tidak terjadi banjir di kota Liverpool itu. Saya yang tiap tahun ’pulang’ merasakan banjir 2 tahun lalu sekitar 20 cm di dalam rumah di aaat pemerintah daerah kian sibuk dengan proyek Metaverse, pembangunan kota, reklamasi, dan proyek ala Star Treck lainnya sementara di depan mata pengemis, gelandangan, tindak kriminal, koruptor bernaung di bawah langit yang sama. Sebenarnya sah-sah saja meletakkan target, mewujudkan impian ambisius tapi jangan abaikan realita. Takkan tergapai langit tanpa pijakan yang kokoh dan kaki yang kuat. Beberapa tahun terakhir, jalan-jalan di Makassar dibeton. Kedai, kios, bisnis kecil-besar dan vendor menyesakkan tepi jalan. Mobil2 berebutan lajur dan parkiran. Motor2 yang kadang dikendarai anak-anak sambil merokok melaju dengan arah seenaknya. Tanah tempat resapan air nyaris tak terlihat lagi. Penduduk yang mengaku beradat, beradab, siri’ na pacce, dan religius terlihat tak malu lagi melakukan hal yang salah. Tidak semua kepala! Tetapi sesuai data yang saya peroleh bahwa SulSel adalah provinsi terkorup sedang Makassar berada pada tempat teratas sebagai kota yang tidak layak dikunjungi membuat saya menengok kembali makna gaya bahasa Totem pro pars yang pernah saya pelajari. Banjir dari manakah gerangan? Saya jawab; dari pembangunan kota dan dari perlakuan penduduk yang seenaknya terhadap lingkungan. Contoh kecil adalah ketidakdisiplinan dalam membuang sampah, kurangnya kesadaran daur ulang dan konsumerisme masyarakat yang tinggi. Mengubahnya tak mudah apalagi jika pemerintah kota memang tak sensi pada apa yang saya sebutkan di atas dan penduduk cenderung tidak humanis. Saya bukan pakar lingkungan. Bukan arsitek, bukan politikus, bukan siapa-siapa. Saya hanya orang Makassar yang bicara terbuka di saat masyarakat menyalahkan satu pihak jika banjir terjadi. Banjir di Makassar bukan kesalahan satu pihak saja. Semua dari kita sebagai penduduk turut ambil bagian di dalamnya. Banjir adalah reaksi alam atas tindakan kita yang ‘menyakitinya’. 7 24