| Kota Makassar, mengidamkan dirinya sebagai Kota Dunia. Katanya, Kota Metaverse. Beberapa hari lalu dikepung banjir. Hingga sekarang, hujan masih mengguyur kota.
Warga Kota Makassar, bereaksi memuntahkan amarah, laiknya air meluap kemana-mana. Dari banjir air ke banjir amarah.
Sebagai warga Kota Makassar, mukim di pinggiran kota, saya sudah menjadi langganan banjir. Meskipun banjir kali ini lebih tinggi dari biasanya.
Amarah saya sudah habis, tiada sisa lagi. Sehingga, tak ikut unjuk marah di media sosial. Lalu, apa yang saya lakukan?
Mungkin ini selemah-lemahnya gugatan. Menulis esai sebagai gugahan. Yuks, sila dieja. Bila berkenan, bagikanlah. |
3 |
53 |